Coba Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek

Sebuah gurauan dari awal tahun 1960an dengan bagus menggambarkan paradoks dari keyakinan hasil praanggapan. Yuri Gagarin, kosmonot pertama yang pergi ke ruang angkasa diterima oleh Nikita Khruschev, sekretaris jenderal Partai Komunis, dan Gagarin memberitahunya diam-diam: “Kau tahu, kamerad, di langit atas sana aku melihat surga dengan Tuhan dan para malaikatnya—agama Kristen itu benar!” Khruschev berbisik balik padanya: “Aku tahu, aku tahu, tapi diam sajalah, jangan bilang siapa-siapa!” Minggu berikutnya Gagarin mengunjungi Vatikan dan disambut oleh Sri Paus, yang kepadanya ia mengaku: “Anda tahu, Bapa Suci, saya ada di langit atas sana dan tak melihat Tuhan maupun malaikat …” “Aku tahu, aku tahu,” potong Sri Paus, “tapi diam sajalah, jangan bilang siapa-siapa!”

 

Žižek, Slavoj. 2014. Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek. Tangerang: Marjin Kiri.

Advertisements

Lihat Dirimu

Kemarin sore adalah sore yang cukup melelahkan, sampai saya berjalan sambil terkantuk-kantuk. Setelah seharian destilasi metanol di lab, saya ke perpustakaan niatnya mau minjem buku buat referensi penelitian saya. Saya udah nyari-nyari buku di lantai 3, turun ke lantai 1 mau ngurus peminjaman, ternyata nggak boleh minjem karena ada satu buku yang belum saya kembaliin dan udah telat, jadi diblock. Dan buku itu masih di temen saya. Capek. Ke atas lagi balikin buku. Pulang.

Saya lewat Fakultas Ekonomi, di depan saya jalan dua anak (cewek). Saya jalan di belakangnya sambil nahan kantuk dan capek, mereka jalan sambil ketawa-ketawa. Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. yang mereka tertawakan selama berjalan adalah bahasa temen-temen yang dari timur Indonesia. Saya mengira mereka masih mahasiswa baru yang pikirannya sempit yang baru kali ini ketemu orang yang “maybe” berbeda. Ya iyalah, bukankah sudah dipelajari pas sekolah dasar, Indonesia itu beragam, macem-macem suku dan bahasanya, macem-macem juga orang-orangnya.

Sepanjang perjalanan mereka ngetawain bahasa itu. Saya yang sebelumnya sudah capek jadi ditambah capek. Masalahnya, mereka sendiri berasal dari “daerah”. Bahasa mereka medok parah. Saya langsung bisa menduga mereka berasal dari daerah selatan Jawa Timur yang bahasanya “medok” yang saya kadang-kadang juga susah mengerti, padahal sama jawanya. Dan mereka menertawakan orang lain???

Primitif sekali.

Pengen rasanya saya menampar mereka, tapi takut dipenjara.

Masalah terbesar manusia masih “kesombongan”. Bahkan masih merasa sombong terhadap bangsa sendiri, terhadap sesama manusia, apalagi terhadap lingkungan—hewan, tumbuhan, bumi? Orang-orang sombong, yang pikirannya kurang dibuka seperti itu pantas masuk keranjang sampah. Kesombongan membutakan kita, membuat kita bodoh dan narsis overdosis.

Akhirnya Jalan-jalan!

Perkuliahan udah berjalan 6 minggu dan meskipun kami udah semester tua, mata kuliah yang diambil juga nggak sebanyak semester-semester sebelumnya, tapi tekanannya semakin berat, coy! Saya sendiri tiap hari harus ngelab dan mulai merancang penelitian, belum lagi tugas-tugas kuliahnya yang banyak dan tingkat kesulitannya tinggi, hohoho. Akhirnya saya sama sahabat saya, Ulfa, merencanakan refreshing. Menyesuaikan jadwal kami, kami sepakat buat beli bunga ke Splendid jum’at sore. Saya pengen beli kaktus.

Jum’at sore pun tiba, langit Malang abu-abu, jalanan becek karena usai hujan. Dari kos naik angkot terus kami jalan-jalan deh ke Splendid beli bunga. Bener-bener jalan loh… bareng para bule yang juga lagi jalan di trotoar. Dan sungguhan kegiatan ini bikin bahagia. Yang nggak bikin bahagia itu kendaraan di jalanan yang mengancam nyawa para pejalan kaki. Ngomong-ngomong, kenapa sih kita itu sukanya menyerap budaya barat yang negatif-negatif aja? kayak free sex, narkoba, minum, dll. Kenapa? Apa karena mudah dilakukan dan bikin kita terlihat keren? Kenapa budaya mereka yang positif nggak kita tiru sekalian? Kayak suka jalan kaki, naik angkutan umum daripada kendaraan pribadi, disiplinnya, buang sampah ke tempatnya, cara belajarnya, etos kerjanya. Heran deh, kalo gini kan kayak Indonesia tuh nggak maju-maju masyarakatnya.

Oke, back to our main topic!

Oh iya, Splendid itu pasar bunga yang ada di Kota Malang. Jadi di sana jual banyak banget bunga dan suasananya adem-adem asik. Apalagi sore-sore pas setelah hujan, hmmm….. jadi nggak pengen pulang, (juga nggak pengen beli karena uang koret hahaha), Cuma pengen menikmati suasananya aja. ulfa jadi belinya bunga krisan putih yang supercantik, dan saya nggak jadi beli kaktus karena pas kaktusnya nggak bagus-bagus. Saya jadinya beli ikan koi dua ekor. Ikan koi itu saya kasih nama Anam sama Zubaedah. Eh, pas paginya saya bangun tidur si Zubaedah mati hiks hiks. Gara-gara saya malemnya kecapekan, langsung tidur dan nggak sempat ganti airnya.

img_20160923_150506

img_20160923_150900

 

Setelah dari Splendid kami malas pulang dan mutusin buat main-main ke taman di depan Balai Kota aja. Pas waktu itu ada demonstrasi gitu di depan Balai Kota yang bikin kendaraan di bunderan depannya itu macet. Hmm… untung jalan kaki hahaha. Main-main, duduk-duduk, hujan-hujan, dan foto-foto deh kita. Lumayan menghilangkan penat. Jujur, selama tiga tahun (numpang) tinggal di Kota Malang, saya baru kali ini main ke sini. Hahaha. Jadi, puas-puasin foto-fotonya. Meskipun ada pengalaman buruk ketemu orang gila yang melakukan hal nggak jelas. Saya suka benci sama orang yang memiliki kelainan psikis kayak mereka dan mengganggu kita, masalahnya apa yang mereka lakukan dan kita ‘nggak sengaja’ melihat membuat saya nggak bisa ngelupain dan sumpah menyebabkan trauma psikologis gitu. Saya benci banget. Benar-benar pengganggu.

Tapi lupakan deh, nggak penting.

Kebetulan saya juga habis sedih gitu dan jalan-jalan kali ini bikin heeeppppiiiii. (sory alay, rindu piknik).

img_20160923_153904

img_20160923_160035

img_20160923_160754

img_20160923_161900

img_20160923_163034

img_20160923_163204

img_20160923_163446

img_20160923_161335

Tidurlah

Akhirnya malam tiba juga, 

Malam yang kunantikan sejak awal

Malam yang menjawab akhir kita

Dan pagi, takkan terisi lagi

Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya

Membangunkan orang tanpa membagi sedikit asmara untuk memulai hari

Tidurlah…  Malam terlalu malam

Tidurlah…  Pagi terlalu pagi
Tidurlah…  Di dalam masa laluku


Untitled

Masa lalu memang paling asik untuk dikenang, apalagi yang indah-indah. Sayang sekali blog saya waktu SMA saya hapus, jadi agak susah menemukan ‘fosil’ kehidupan alay saya zaman SMA. Tapi di otak saya ingat betul, bagaimana indahnya hari-hari sekolah, masalah kita cuma PR yang belum selesai atau masalah sepele sama temen, hidup tanpa beban. Dan setelah lulus SMA? Wow, hidup saya jadi superwow. Kalo pas SMA saya punya cinta, udah pergi gitu aja pas mau ujian. Dan kemudian saya galau, tapi saya nggak akan pernah menyesali saat-saat itu. Patah hati ternyata mengajarkan saya sebuah keikhlasan. Dan, ternyata saya baru bisa ‘ikhlas’ itu setahun belakangan ini melalui proses perenungan dan pendewasaan (tsah). Hahaha. Lama ya? terlalu mengendap di hati saya kayaknya.

Kadang saya ingin mengulang waktu dan memperbaiki semuanya. Kemudian saya berpikir, kalau waktu saya sekarang saya habiskan untuk berangan-angan memutar waktu, saya bisa-bisa tidak hidup di hari ini. dan besok, pikiran saya akan tetap sama pengen ngulang waktu terus. Hal kayak gitu yang akan membuat saya di masa depan ingin kembali ke masa sekarang atau masa lalu. Nggak maju-maju dong. Mungkin saya harus lebih banyak bersyukur atas nikmat dari Tuhan (ciyee saya punya Tuhan, alhamdulillah) dan lebih banyak ikhlas terhadap apa-apa yang kurang bisa saya terima.

Kalau kita merasa hidup kita sangat menderita dan kayak penuh perjuangan banget, coba kita pikir, nggak semua orang seberuntung kita, yang dapat melalui semua perjuangan itu sehingga kita bisa sampai hari ini. kalo menurut saya, perjuangan yang berat tentu melahirkan individu yang lebih kuat mental. Kalo kata orang bule, what doesn’t kill you makes you stronger. Saya tahu, di luar sana banyak sekali orang hebat yang kisah hidupnya jauh lebih tragis dan seru, gini doang sih belum apa-apa, Ian! Saya keseringan overthinking yang membuat saya mempermasalahkan hal sepele, tapi emang kadang perlu dipikir gitu loh, tapi lebih baik mikir yang lain yang lebih penting biar otak nggak overload. Orang-orang sering mengira saya sedang ngelamun, terus saya dinasehati biar nggak sering-sering ngelamun. Hey, saya tuh mikir. Kelihatannya muka saya kayak ngelamun, padahal isi pikiran saya tuh nggak kosong. Seumur-umur saya belum (jangan pernah deh) ngelamun kosong loh. Gitu deh, orang-orang sering salah persepsi tentang saya. Dan saya juga malas menjelaskan diri saya, hehehe.

Tulisan ini emang nggak jelas, saya nggak ada pandangan sama sekali mau nulis apa, jadinya ngalor ngidul dan (mungkin) nggak ada isi. Lah, saya lagi pengen nulis, gini dulu deh. Maafkan. Hahaha.

Coban Pitu

Beberapa tips untuk persiapan ke Coban Pitu:

  1. Bawa masker
  2. Jangan bawa motor matic, karena sungguhan menyusahkan. Lebih baik bawa motor yang biasa aja atau motor trail hehe
  3. Siapkan fisik dan tenaga aja.

Jadi ceritanya, aku sama temen-temen sekelas berencana ke Coban Pitu. Tapi emang dasar manusia yang kebanyakan janji, yang berangkat cuma beberapa dan cewek semua. yay. sebut kami wonderwoman!

Aku sendiri naik motor bareng Erlyna, berangkat dari Kota Malang jam setengah tujuh pagi dan sampai di tempat kira-kira jam delapan. Saat itu hari jum’at dan siangnya si Erlyna ada kuliah. Emang cewek tangguh, paginya trekking, siangnya kuliah hihihi. Sempat nyasar ke jalan arah Coban Rondo juga sih, tapi akhirnya nyampe juga ke tujuan yaitu di daerah Pujon Kidul.

Dari pintu masuk ke tempat parkir, itu kira-kira 2 KM dengan jalan makadam dan berlumpur kalo hujan, jadi lumayan licin. Apalagi, tahu kan, jalan di dataran tinggi yang berkelok-kelok dan penuh tikungan tajam. Saat itu aku sama Erlyna pake motornya Erlyna yang matic. Lumayan kram deh. Disarankan jangan pake matic kalo ke sana. Sesampainya di tempat parkir yang masih sepi abis, kita harus menempuh perjalanan jalan kaki sekitar satu kilometer lebih, nyaris dua KM-an kali. Dan treknya penuh debu, disarankan pakai masker.

Semua perjalanan yang menantang dan seru itu ditambah lagi keseruannnya dengan melihat sunrise di Coban Pitu. Indah sekali, subhanallah. That’s why I love trackking!!!!!

 

Malang, 2 Oktober 2015

Sahabat

Saya punya sahabat, laki-laki, yang pernah membuat saya jatuh cinta. Saya mengenal sahabat saya ini sejak pertama kalinya saya duduk di SMA (dia bangku sebelah bangku saya dan entah terpaksa atau takdir, kami berkenalan pada hari pertama masuk SMA). Sepanjang bersekolah SMA kami bersahabat sampai kami tak bisa membedakan batas antara persahabatan dengan perasaan yang lain. Sekali lagi entah ini karena terpaksa akibat kami yang selalu sekelas atau memang takdir menjadikannya begini. Sifat kami tidak sama. Saya yang malas-malasan, dia yang bersemangat. Mungkin itu yang dikatakan melengkapi. Itu juga yang membuat saya merasa nyaman.

Akhirnya masa SMA usai dan kami harus melanjutkan hidup masing-masing. Entah harus berapa kali lagi takdir membawa kami. Dari seluruh kota di Indonesia, kami bertemu lagi di Malang. Kali ini beda kampus, tapi tetap satu wilayah. Persamaannya dengan SMA, jurusan yang kami pilih tidak melesat dari jurusan kita waktu SMA. Dia mengambil pertanian, dan saya dipilih oleh kimia. Kenapa saya dipilih, dan bukan memilih? Karena lebih natural seperti itu. Kelihatan kalau saya pasif sekali dan pribadi yang malas (hahaha).

Perbedaannya dengan SMA, di kota yang sama ini: Kami jarang bertemu! Bahkan tidak pernah bertemu, barangkali, karena ada satu dan lain alasan. Alasan ini yang membuat saya selalu mengira sahabat saya itu pengecut (sekali lagi karena ada alasan yang malas saya jelaskan). Waktu membuat kami berubah. Waktu meniti kami menjadi berbeda jauh sekali.

Sahabatku itu menjadi orang yang sangat alim dan taat agama (yang ia perlihatkan kepada saya kurang lebih semacam itu). Ketika memasuki toko buku, segera arah kami akan berbeda. Saya langsung menuju rak buku-buku sastra, dia langsung menuju rak buku-buku islami. Bedanya dengan saya, di kampus kegiatan ekstra saya adalah teater, dia organisasi keagamaan. Kita semakin jauh berbeda. Jika ia punya pacar dan mengaku tidak punya pacar karena katanya pacaran baginya adalah haram, maka saya mengaku tidak punya pacar karena saya memang tidak punya pacar.

Delusi saya yang liar adalah bahwa suatu saat nanti kami berjodoh menjadi sepasang manusia. Apakah perbedaan yang semakin jauh ini akan tetap melengkapi seperti persahabatan yang sangat ringan waktu sekolah dulu? Dia yang mempelajari ilmu kehidupan langsung dari buku-buku agamanya, saya yang mempelajari ilmu kehidupan dari buku-buku sastra dan sejarah. Idola saya adalah Dee, Ayu Utami, dan kawan-kawan dia mengidolakan ustad X, Y, Z, sampai tiga variabel XYZ yang saya bahkan lupa-lupa ingat namanya.

Bayangkan betapa serunya obrolan kami di bangku taman belakang rumah kami dengan kolam ikan dan hutan dalam pot yang kami buat. Apalagi sore-sore setelah hujan pertama di bulan November. Rumah kami akan penuh dengan rak-rak buku yang dengan sendirinya memisahkan wilayah otak saya dan dia.

Tetapi delusi selamanya akan menjadi delusi.