Rahasia Lelaki Tua

index

Apa yang paling ingin diteriakkan seorang yang ingin mengumpat keras-keras? Di mana tempat yang paling tepat untuknya untuk meneriakkan asu atau alat kelamin sesamanya? Rahasia apa yang dimiliki seseorang yang di hatinya penuh dengki dan keinginan tak mau kalah? Rahasia apa yang dimiliki tuhan sehingga ia mengkotak-kotakkan derita manusia? Rahasia apa yang dimiliki bumi yang dipijak bermiliar manusia dengan perbedaannya? Kemudian, apa yang harus dilakukan seseorang yang kesepian selain sekedar mempertanyakan hal-hal terlalu penting itu?

Orang itu harus tau kehidupan seorang lelaki tua bernama Santiago, seorang nelayan di Teluk Meksiko yang sudah delapan puluh empat hari tak pernah mendapatkan ikan di laut. Pada empat puluh hari pertama, ia mencari ikan ditemani seorang anak lelaki yang orang tuanya berpikir bahwa Santiago adalah orang yang paling sial dari yang tersial dan memerintahkan anaknya berhenti iku lelaki tua itu. Pada hari ke-delapan puluh lima, ia siap berlayar sendirian di laut. Anak lelaki itu memaksa untuk ikut, tetapi lelaki tua itu melarang. Akhirnya anak itu hanya berusaha memberikan bekal terbaiknya untuk menemani lelaki tua itu di laut.

“Hanya saja tak ada untung padaku. Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada untung. Tetapi aku lebih suka berusaha untuk tepat. Lalu kalau untung itu datang kita sudah sepenuhnya siap.”

Ernest Hemingway mengajak kita berpikir, sebenarnya ada tidak sih faktor keberuntungan itu? Selama ini saya merasa tidak adil jika hidup kita ditentukan oleh faktor keberuntungan. Orang Jawa mengkotak-kotakan keberuntungan orang berdasarkan weton. Saya pikir itu tak adil, bagaimana dengan orang yang wetonnya rendah? Yang diramalkan tak bisa jadi orang besar, yang keberuntungannya kecil sekali? Sebanyak apa dosa yang dilakukan orang-orang berweton kecil itu di kehidupan sebelumnya?

Dan bagaimana nasib lelaki tua yang tak percaya untung itu? Tak peduli akankah diakui atau akhirnya sia-sia. Tetapi kita harus ikut lelaki tua itu mengarungi samudra yang mulai membiru tua dan pekat, kemudian kita akan mendapati tak ada siapa-siapa dalam cerita ini kecuali lelaki tua itu, yang terus berbicara kepada dirinya sendiri, atau benda-benda di sekelilingnya. Ia berbicara pada ikan, tapi ikan adalah makhluk hidup yang mati jika diajak bicara. Hemingway membingkai apik monolog lelaki tua yang dramatis sehingga kita bisa merasakan kesepian yang sebenarnya.

Ia terus berkhayal, “Seandainya anak itu ada di sini…” dan itulah yang kita pikirkan ketika kita sendiri merasa kesepian. Seandainya ada orang di sini….

Selain seorang anak lelaki yang menjadi sahabatnya, ia juga punya seorang sahabat seekor ikan raksasa, yang entah dapat ia ajak ke rumahnya atau tidak, sebab ikan itu terus berenang tenang dan pikiran lelaki tua itu menari-nari di antara iringan harapan reaksi orang-orang di daratan yang melihatnya nanti. Reaksi anak lelaki yang sangat mengkhawatirkannya yang berhari-hari tak pulang demi ikan raksasanya itu.

Saya mendukung lelaki tua yang ingin membeli sebuah keberuntungan itu. Lelaki tua yang terbebas dari kesepian dan bahagia setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk berdialog dengan dirinya, hanya untuk tahu rasanya bercakap dengan selain dirinya.

Tetapi, Hemingway tahu tak ada yang bisa membeli sebuah keberuntungan. Hanya saja orang yang otaknya penuh asu, hatinya dengki, menderita, dan kesepian haruslah ikut mengarungi samudera seperti yang dilakukan lelaki tua itu. Tuhan tak perlu ikut, sebab tuhan…

 

 

Laboratorium Penelitian Kimia, UM.

Malang, 30 Januari 2017.

Advertisements

Dunia Sukab – Seno Gumira Ajidarma

Ada perempuan memilih jalan kekerasan. Ada penemuan ladang pembantaian. Ada kisah masa depan pemerkosaan. Ada orang disiksa, ternyata salah sasaran. Ada orang dibakar, melakukan penampakan. Ada orang terbuang, karena beda pemikiran. Ada banyak rakyat, bingung memilih pimpinan. Ada orang korupsi, hidungnya menjadi panjang. Ada orang dirampok, malah bisa terbang. Ada jenazah hilang, karena kebanjiran. Ada karung ditemukan, berisi mayat preman. Ada buah dosa turunan, laris manis tak karuan. Ada percakapan sepatu, merenungkan kesetiaan. Ada suami pengangguran, hobinya tidur siang. Ada sekretaris cantik, kakinya kapalan. Ada kurir toko bunga, menggoda pembantu rumah tangga.

Mereka berada di Dunia Sukab, dunia kita-kita juga. Tapi siapakah Sukab?

img_20161112_195033

Saya pertama tahu Sukab adalah saat dia berusaha menyembunyikan sepotong senja untuk pacarnya sampai berlarian melewati gorong-gorong. Tapi ternyata yang saya tidak tahu, Sukab ada di mana-mana. Sukab jadi calon pemimpin, Sukab disiksa orang dikira Haji Rustam, sampai jadi penjual buah dosa turunan.

Ini hanya tulisan subyektif saya tentang tulisan-tulisan SGA, atau tentang Sukab.

Saya penggemar Sukab, atau SGA, hampir-hampir saya tak bisa membedakan, jadi, saya belum menemukan di mana ‘tidak bagus’nya tulisannya. Jadi, yang saya lakukan  sambil membacanya hanya berpikir, berpikir tentang refleksi diri.

Dari kisah masa depan pemerkosaan, saya jadi bersyukur. Saya bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya bersyukur lahir dari rahim ibu saya, jadi anak ibu-bapak saya, dan disayangi mereka sebagai anak. Bayangkan, gimana jadinya kalau kita adalah anak yang lahir dari sebuah pemerkosaan, yang bahkan ibu kita menganggap kita mimpi buruk yang harus dilupakan, dan bapak kita tidak tahu entah di mana. Masih hidupkah? Jadi orang jahatkah? Atau malah jadi pemuka agama? Dari hal sekecil itu pun (itu hal besar menurut saya,) kita harus tetap bersyukur. Saya bilang ‘hal kecil’ karena seringnya itu luput dari pikiran kita.

Dari banyak rakyat yang bingung memilih pimpinan, saya jadi ingat kehidupan ‘politik’ di fakultas saya. Ya begitulah. Ada banyak calon pemimpin mahasiswa, tapi dari golongan yang sama. Ada banyak mahasiswa, tapi bingung memilih yang mana. Ada banyak omongan, tapi sebenarnya untuk apa? Apa andil mereka kepada kita? Yang saya tahu sampai saat ini, itu kepentingan pribadi saja. Program kerja mereka semata-mata ‘mengisi waktu’, sasaran empuk kegiatan mereka adalah mahasiswa baru. Mereka menginginkan jabatan atau apalah, tujuan utamanya mencari ‘pengalaman’ dan mengisi CV supaya terlihat lebih aktif saja. Jadi, apa fungsi mereka bagi rakyat? (dalam hal ini rakyat adalah mahasiswa). Saya kurang tahu apakah di fakultas lain, bahkan di kampus lain sama cerita, atau lain cerita. Maka dari itu, saya lebih respect sama organisasi atau komunitas seperti UKM yang memang isinya adalah orang-orang yang memiliki hobi yang sama dan tidak perlu melibatkan ‘rakyat’ dalam pemilihan pimpinan mereka.

Daripada membaca omongan saya yang nggak jelas di paragraf sebelumnya, lebih baik kita mendengar percakapan sepatu yang merenungkan kesetiaan. Saya pernah bosan terhadap semuanya, kalo boleh dibilang bosan hidup juga. saya jadi merenung, kalau saya merasa seperti itu berarti saya tidak setia kepada Tuhan saya yang memberikan waktu hidup saya lebih lama dari ini? nah! Saya nggak jadi ingin merasa bosan dan memeliharanya.

Dan dari perempuan yang memilih jalan kekerasan….. saya jadi ingat salah satu tokoh anime favorit saya. Seorang Ninja yang hebat, yang bercita-cita jadi Hokage dan sempat dikhianati sahabatnya, yang sampai sekarang kisah hidupnya belum selesai. Belum lagi ia menambahkan cerita tentang anaknya. Hmm… Naruto Uzumaki.

Sudah. Itu Saja. Saya yang bodoh ini masih perlu banyak membaca dan belajar, terutama genre tulisan yang saya sukai, sastra.

Minoel: Menyederhanakan Kerumitan dengan Tulisan

Judul Buku: Minoel

Penulis: Ken Terate

Genre: Teenlit

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal Buku: 272 halaman

Rating: 4/5

Minoel: cover depan

Minoel: cover depan

Minoel: cover belakang

Minoel: cover belakang

Kata orang, cinta butuh pengorbanan. Kata orang, cinta berarti memberi

Hanya karena berkorban demi cinta, Minoel menjadi gila. Hanya karena memberi semuanya untuk cinta, Minoel sampai butuh terapi. Terapi tentu saja hal yang sangat mewah untuk gadis miskin sepertinya. Bisa sekolah gratis saja sudah beruntung. Pun dia harus bergabung dengan orkes melayu di kampungnya sebagai penyanyi dangdut yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Semua itu tidak mudah bagi gadis remaja seperti Minoel. Yang miskin. Yang mempunyai Mamak suka mengomeli nasib. Yang tinggal di desa terpencil di Gunungkidul. Yang cacat.

Minoel tidak sempurna. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetapi kasus Minoel lain. Sering sakit-sakitan waktu bayi membuat kakinya mengecil dan tak pernah tumbuh seiring bertambahnya waktu. Ingin seperti remaja lainnya, Minoel pun ingin punya pacar. Yola, sahabatnya, suka gonta-ganti pacar semudah ganti baju. Lilis, sahabat dan juga sepupunya, yang tidak lebih cantik saja bisa punya pacar yang dianggap teman-teman sekolahnya keren. Tetapi semua itu susah bagi Minoel mengingat kakinya.

Akang, seorang pemuda yang terkenal berandalan meminta Minoel menjadi pacarnya. Minoel senang bukan kepalang. Akhirnya ada juga yang mau menerima dia apa adanya. Sahabat-sahabat Minoel tidak ada yang setuju dengan keputusan Minoel. Termasuk Dewa dan Mbak Novi, teman dan guru nyanyinya.

Semua yang dikatakan orang-orang tentang Akang itu salah. Bagi Minoel, Akang adalah anak rapuh yang butuh perhatian. Akang menceritakan keadaan keluarganya pada Minoel. Tentang ibunya yang jadi TKW, tentang pamannya yang ‘tidak normal’, tentang bapaknya yang entah ke mana. Semua itu membuat Minoel iba dan memutuskan menyayangi Akang dengan tulus. Minoel pikir yang Akang butuhkan adalah itu semua.

Sampai suatu hari Akang berubah. Lelaki itu mulai bertingkah kasar dan tidak masuk akal. Akang sering berbuat kasar jika sekali saja Minoel melakukan kesalahan yang terasa ‘sepele’. Misalnya, lupa membalas SMS, berboncengan dengan cowok lain yang adalah teman sekolah padahal untuk kepentingan sekolah, dan lain sebagainya. Akang juga mulai meminta bayaran-bayaran Minoel dari lomba menyanyi dan manggung bersama orkes melayunya dengan dalih ‘disimpan untuk masa depan’.

Minoel pun hanya menurut saja. Dia pikir sudah baik Akang mau menerima dia yang miskin, bodoh, dan cacat. Jadi, sudah semestinya Minoel harus menerima kelakuan Akang yang buruk. Lagipula, memangnya ada yang mau jadi pacar Minoel selain Akang? Menurut Minoel, bisa punya pacar berarti kamu sudah layak dicap keren.

Jika hanya meminta uang atau pulsa sih Minoel tidak mengapa. Tetapi lama-lama Akang mulai meminta yang lain-lain dan mengancam Minoel. Menuduh Minoel tidak setia jika tidak mau memberikannya. Minoel baru tahu pengorbanan sebuah cinta bisa begitu besar. Akankah ia harus memberikan SEGALANYA untuk cintanya?

Lewat teenlit Minoel yang ditulis oleh Ken Terate ini kita dapat mengetahui betapa rumitnya kehidupan remaja di kampung terpencil. Tentang konsep pacaran, tentang masa depan yang bahkan suram. Mana berani Minoel memikirkan kampus mana yang akan ia pilih saat ia lulus SMA? Untuk hidup saja sudah susah.

Melalui tulisan Minoel memulai terapinya. Melalui tulisan akhirnya Minoel bisa tersenyum kembali. Cara tulisan menyederhanakan kerumitan hidup Minoel membuat saya terbius dan segera menyelesaikan membacanya. Saya menghabiskannya dalam waktu sehari semalam. Alurnya selalu membuat penasaran.

Ada banyak hal yang dapat diambil setelah membaca teenlit ini. Seperti genre-nya: teenlit. Ceritanya pasti tentang remaja. Hanya yang aku suka dari karya-karya Ken Terate adalah tulisannya selalu bermutu dan memang ‘remaja’ sekali. Seperti misalnya, pacaran. Remaja yang keren selalu punya pacar. Sebelumnya saya juga berpikir begitu (meski saya bukan remaja lagi, hehehe). Tetapi setelah membaca buku ini kayaknya nggak apa-apa deh nggak punya pacar saat remaja.

Bagaimana kalau pacarmu aneh? Bagaimana kalau pacarmu psikopat? Bagaimana kalau pacarmu kasar? Lebih parah lagi, bagaimana kalau pacarmu menghancurkan masa depanmu?

Lamongan, 23 Juli 2015

dian.