Berbahasalah dengan Baik dan Benar, Anak Muda!

Mewabahnya media sosial yang memberi tempat buat kita bebas menulis apa saja dan di mana saja menurut saya nggak banyak berpengaruh baik ke manusia. Banyak istilah-istilah yang—kita belum benar-benar paham artinya—seenak udel kita serap dan kita aplikasikan. Biar dibilang gaul, kekinian, hits, keren, dan pengakuan nggak penting lainnya.

Misalnya saja kata gabut yang merupakan singkatan dari gaji buta. Saya mengira orang yang pertama menggunakan kata ini adalah seorang karyawan perusahaan atau pegawai negeri yang lagi ngopi-ngopi santai sambil scrolling-scrolling timeline saat jam kerja. Saking santainya, ia sempatkan update status, “Gabut, nih.” Berkat media sosial, istilah ini jadi booming melebihi kecepatan cahaya. Seorang ABG di belahan bumi yang lain lagi asik-asiknya berhari libur gulung-gulung di kasur karena di sekolah gurunya rapat. Akhirnya dia update status, “Lagi gabut nih.” Seterusnya semua orang menggunakan istilah ini untuk mengungkapkan ‘kegiatan nggak ngapa-ngapain’, terlepas ada yang menggajinya atau enggak. Ironisnya, ada yang selalu menggunakan istilah ini dan tak tahu asal-usulnya. Ia tahunya hanya gabut, gabut, gabut, merasa hits menggunakan kata itu, tanpa tahu kalau itu singkatan dari gaji buta.

Mengenaskan bahwa kita telah belajar bahasa Indonesia sejak kelas 1 SD. Paling enggak, 12 tahun kita bersama pelajaran asik itu. Sama halnya dengan matematika yang sudah kita terima sejak kelas 1 SD, kalau kita hafal betul dan membenarkan bahwa 1 + 1 = 2 atau akar dari 144 adalah 12, kenapa kita suka salah berbahasa Indonesia? Hampir-hampir orang dewasa sekali pun masih salah menulis kata depan “di” atau imbuhan “di” seharusnya diberi spasi atau tidak. Bahkan, kita saja masih bingung kapan itu imbuhan, kapan itu kata depan. Ini masih hal sederhana yang pernah kita dapat di bangku sekolah dasar. Belum lagi kapan harus menulisnya dengan huruf kapital, kapan harus memberi koma atau spasi setelah tanda baca, apalagi kata-kata yang mengalami peluruhan, sampai yang jauh kata-kata serapan dari bahasa asing. Nah loh! Ribet kan?

Menurut saya enggak. Itu semua sudah kita dapatkan di bangku sekolah. Apakah ini masalah “merendahkan suatu hal” di bawah hal-hal lain? Banyak dari teman-teman saya mengeluh ujian bahasa Indonesia itu bikin ngantuk, rasanya kayak baca koran, bingung mau jawab apa jadinya. Padahal sebelumnya, kita sibuk belajar berhitung, menghafal biologi, tanpa menyentuh buku bahasa Indonesia sedikit pun. Katanya, “alaaaa…. bahasa Indonesia doang, kecil.”

Kecil. Kecil. Kecil. Kebiasaan buruk kita mengecilkan sesuatu yang sesungguhnya besar. Lihat saja nilai UAN bahasa Indonesia pelajar Indonesia sebagian besar paling rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Belum lagi kita sok-sokan keminggris. Apa-apa pake bahasa Inggris, padahal seringnya salah semua grammarnya, atau bahkan penulisannya. Saya bukan orang yang jago berbahasa Inggris, suka gemes sama orang yang sebenarnya nggak bisa bahasa Inggris tapi suka nulis atau ngomong di-Inggris-Inggriskan, maka dari itu saya lebih baik memakai bahasa ibu saya saja. Kalau terpaksa harus berbahasa Inggris ya kita tunjukkan sebisa kita, bukan mengada-ada dan malah menunjukkan kebodohan kita.

Saya punya teman yang suka nulis pake bahasa Inggris di status BBM-nya dengan salah kaprah. Sekali-dua kali, okelah, diketawain aja, tapi kalau berkali-kali? Siapa yang nggak gemes? Saya dua kali mengingatkan karena saya pikir itu yang bisa membuat perasaan risih saya hilang. Saya chat dia secara pribadi:

“ayolah, jeng, masa Amd.Kep bahasa Inggrisnya belepotan.”

“Di Akper nggak diajari bahasa Inggris, Jeng.”

“Eman, ya, padahal penting banget tuh.”

Saya tidak bermaksud membahas perkuliahan di alamamaternya atau gimana. Menurut saya, bukan salah institusinya, bukan salah sekolahnya. Yang salah itu diri kita masing-masing. Pengetahuan kita akan kemampuan kita sendiri-sendiri. Dan seingat saya, dulu ada kok kuliah bahasa Inggris waktu saya semester satu di sana.

Ayolah…. kita sudah bukan berada di zaman Jahiliyah lagi. Allah SWT telah mengutus Rasulullah untuk membawa kita ke zaman yang terang-benderang. Lagipula, ayat pertama yang diwahyukan ke Nabi Muhammad SAW juga kan perintah “bacalah!”. Sudah jelas sekarang, membaca itu penting. Efek samping dari kegiatan membaca adalah, waktu kita tidak sia-sia atau “nganggur” sehingga tidak membuat kita mentah-mentah menulis ‘gabut’ di media sosial kita, atau menghabiskan waktu untuk mengurusi orang lain. Hobi membaca juga merupakan hobi yang membutuhkan banyak waktu sehingga kita harus cerdas memilih bacaan yang berkualitas, yang kalau bisa membuat kita lebih pintar, terutama dalam berbahasa.

Berbahasalah dengan baik dan benar, anak muda! Jangan jadi orang yang berbicara lebih dari yang dia ketahui atau tidak dia ketahui. Hal ini juga termasuk upaya kita melestarikan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s