Sahabat

Saya punya sahabat, laki-laki, yang pernah membuat saya jatuh cinta. Saya mengenal sahabat saya ini sejak pertama kalinya saya duduk di SMA (dia bangku sebelah bangku saya dan entah terpaksa atau takdir, kami berkenalan pada hari pertama masuk SMA). Sepanjang bersekolah SMA kami bersahabat sampai kami tak bisa membedakan batas antara persahabatan dengan perasaan yang lain. Sekali lagi entah ini karena terpaksa akibat kami yang selalu sekelas atau memang takdir menjadikannya begini. Sifat kami tidak sama. Saya yang malas-malasan, dia yang bersemangat. Mungkin itu yang dikatakan melengkapi. Itu juga yang membuat saya merasa nyaman.

Akhirnya masa SMA usai dan kami harus melanjutkan hidup masing-masing. Entah harus berapa kali lagi takdir membawa kami. Dari seluruh kota di Indonesia, kami bertemu lagi di Malang. Kali ini beda kampus, tapi tetap satu wilayah. Persamaannya dengan SMA, jurusan yang kami pilih tidak melesat dari jurusan kita waktu SMA. Dia mengambil pertanian, dan saya dipilih oleh kimia. Kenapa saya dipilih, dan bukan memilih? Karena lebih natural seperti itu. Kelihatan kalau saya pasif sekali dan pribadi yang malas (hahaha).

Perbedaannya dengan SMA, di kota yang sama ini: Kami jarang bertemu! Bahkan tidak pernah bertemu, barangkali, karena ada satu dan lain alasan. Alasan ini yang membuat saya selalu mengira sahabat saya itu pengecut (sekali lagi karena ada alasan yang malas saya jelaskan). Waktu membuat kami berubah. Waktu meniti kami menjadi berbeda jauh sekali.

Sahabatku itu menjadi orang yang sangat alim dan taat agama (yang ia perlihatkan kepada saya kurang lebih semacam itu). Ketika memasuki toko buku, segera arah kami akan berbeda. Saya langsung menuju rak buku-buku sastra, dia langsung menuju rak buku-buku islami. Bedanya dengan saya, di kampus kegiatan ekstra saya adalah teater, dia organisasi keagamaan. Kita semakin jauh berbeda. Jika ia punya pacar dan mengaku tidak punya pacar karena katanya pacaran baginya adalah haram, maka saya mengaku tidak punya pacar karena saya memang tidak punya pacar.

Delusi saya yang liar adalah bahwa suatu saat nanti kami berjodoh menjadi sepasang manusia. Apakah perbedaan yang semakin jauh ini akan tetap melengkapi seperti persahabatan yang sangat ringan waktu sekolah dulu? Dia yang mempelajari ilmu kehidupan langsung dari buku-buku agamanya, saya yang mempelajari ilmu kehidupan dari buku-buku sastra dan sejarah. Idola saya adalah Dee, Ayu Utami, dan kawan-kawan dia mengidolakan ustad X, Y, Z, sampai tiga variabel XYZ yang saya bahkan lupa-lupa ingat namanya.

Bayangkan betapa serunya obrolan kami di bangku taman belakang rumah kami dengan kolam ikan dan hutan dalam pot yang kami buat. Apalagi sore-sore setelah hujan pertama di bulan November. Rumah kami akan penuh dengan rak-rak buku yang dengan sendirinya memisahkan wilayah otak saya dan dia.

Tetapi delusi selamanya akan menjadi delusi.

Advertisements

4 thoughts on “Sahabat

  1. Jangan patah semangat dulu; jodoh cuma Tuhan yang tahu. Sesuatu yang banyak persamaan, kalau tak ditakdirkan bersama, maka bagaimanapun mereka sama, tak akan bersama. Namun sesuatu yang sangat berbeda, kalau sudah ditakdirkan bersatu, maka betapapun mereka berbeda pasti akan jadi satu jua. Tak ada yang tak mungkin :)).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s